Tentang Untan



Kategori Berita



Arsip Berita




Cari Berita




Fakultas




« FKIP UNTAN, LPTK PENYELENGGARA PENDIDIKAN GURU DALAM JABATAN | Main | PENGAWASAN UN, TUNDA JADWAL UTS »

JEJAK KEHIDUPAN DI NEGERI SAKURA (1)

By php | April 3, 2009

Penulis: Dr. Ferry Hadary, M. Eng.*

Bunga SakuraPerjalanan hidup memang tak dapat diduga, walau tetap harus direncanakan. Berawal dari kesempatan sebagai researcher di Tokyo Engineering University yang dibiayai oleh HEDS-JICA, April-Oktober 1998, Hachioji, Japan, penulis kemudian mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan program S2, bahkan nantinya S3 di Jepang. Awal April tahun 2000, penulis mengawali studi lanjut tersebut dengan sebuah tekad bahwa kesempatan pasti tak akan datang dua kali. Saat itu dimulailah perjalanan hidup seorang buda’ Pontianak, yang akan mengisi hari-harinya di sebuah negara yang mungkin menjadi idaman setiap orang.
Hawa dingin seketika mencegat penulis ketika baru saja tiba di Narita International Airport. Setelah diberikan pengarahan, mulailah kami yang saat itu dalam satu rombongan –berjumlah kurang lebih hanya belasan orang penerima beasiswa Monbukagakusho (Japan Ministry of Education)– diantar ke kampus masing-masing. Setibanya di asrama milik Tokyo Institute of Technology, penulis kemudian diterima dengan baik oleh pengelola asrama tersebut. Sebuah kamar yang dilengkapi dengan tempat tidur, meja belajar, lemari pakaian, rak buku, wastafel, dalam satu ruangan berukuran kurang lebih 2×4 m2, kelak menjadi saksi sebuah pergulatan budaya, kerja keras bahkan kenaifan seorang anak kampung.
Selama satu tahun pertama, penulis harus menempuh masa orientasi dalam bentuk enam bulan untuk mempelajari Bahasa Jepang dan sisanya untuk mempersiapkan riset. Kegiatan tersebut dimulai setiap pagi hingga sore hari. Oleh karena itu tak heran setiap pagi penulis harus terburu-buru –sebagaimana ciri khas orang Jepang– mengejar kereta listrik (densha) dan rela berimpitan di gerbong dengan orang-orang Jepang yang konon hanya mandi satu kali sehari, namun tertib ketika antri. Sebagai seseorang yang berasal dari negara yang memiliki kultur budaya berbeda, penulis tentu saja harus belajar banyak, tidak hanya dunia kampus namun juga tentang luar kampus.
Karakter orang Jepang yang pekerja keras, disiplin, tepat waktu, pantang menyerah, mandiri, bekerja dalam kelompok dan lainnya adalah karakter yang mau tidak mau mempengaruhi penulis. Bahkan, biarkanlah karakter tersebut menjadi ‘racun’ yang menjalar di setiap pembuluh darah karena ternyata kelak itu akan menjadi penopang keberhasilan bagi siapa saja. Itulah yang penulis rasakan selama tinggal di Jepang.
Beban kuliah yang padat, tugas, kewajiban untuk publikasi hasil penelitian dalam bentuk prosiding (annual conferences ataupun international conferences) dan jurnal, seminar di laboratorium untuk laporan kemajuan penelitian, hingga seminar buku referensi dan jurnal peneliti lain adalah santapan terjadwal yang harus dilakoni. Tak heran penulis sering kali harus lembur di laboratorium ataupun pulang dengan kereta terakhir.
Setahun setelah tinggal di asrama milik kampus, penulis harus pindah. Dengan status sebagai pengantin baru saat itu mengharuskan juga penulis untuk mencari apartemen. Ternyata memang tidak mudah untuk tinggal di apartemen. Penulis dan siapa saja mesti menyiapkan uang sekitar 250.000 yen (atau 30 juta-an rupiah) yang terdiri dari deposit (shikikin/hoshokin) yang besarnya biasanya 1-3 bulan uang sewa, uang kunci/uang terimakasih kepada tuan rumah pemilik apartemen (reikin) yang besarnya 1-2 bulan uang sewa, dan uang komisi untuk agen properti (chukai-tesuryo), dan tentu saja uang sewa bulan pertama. Bahkan bagi kita orang asing yang ingin menyewa apartemen diharuskan untuk mencari penjamin yang mesti orang Jepang.
Menyiasati mahalnya kehidupan di Jepang, mau tidak mau mengharuskan kita untuk putar otak walaupun setiap bulan beasiswa yang diterima dari Pemerintah Jepang adalah sekitar 20 juta rupiah. Dengan memanfaatkan pamflet (chirasi) kita dapat mengetahui informasi sale dan discount barang-barang tertentu, seperti gula pasir, minyak goreng, telur, roti, dan lain sebagainya. Itupun harus rebutan dengan orang Jepang sendiri. Membawa masakan sendiri (bentou) juga membuat lebih hemat. Bayangkan saja, untuk sekali makan di luar bisa menghabiskan setidaknya 120 ribu rupiah, tentu akan lebih hemat jika kita memasak sendiri. Soal rasa? Ah, lupakanlah itu sementara waktu. Memanfaatkan poin belanja (pointo kaado) juga adalah sebuah strategi untuk berhemat. Atau cobalah untuk berbelanja di atas jam 8 malam. Saat itu hampir semua produk makanan diberikan potongan harga sebanyak 50%.
Aha!!! Jangan lupakan pula momen flea market atau bazar. Di Jepang, sering sekali momen itu terjadi dan sudah pasti akan banyak peminatnya. Jangan bayangkan kalau barang-barang yang dijual itu adalah barang tak layak pakai. Tak jarang barang-barang itu dijual hanya karena penjualnya sudah bosan memajangnya di rumah atau karena ingin membeli produk terbaru untuk barang yang sama. Harganya? Jangan khawatir, jelas-jelas miring dari harga pasaran. Jika ingin lebih murah lagi, ada siasat yang jitu, misalnya pada pergantian musim. Belilah baju untuk musim dingin pada saat menjelang musim panas dan sebaliknya. Toko 100 yen (hyakuen shoppu) juga ada di mana-mana, menyediakan barang sehari-hari dengan harga murah atau all item hanya 100 yen (sekitar 12 ribu rupiah). Di awal Tahun Baru juga banyak toko atau mal yang menyediakan ‘kantong keberuntungan’ (fuku bukuro). Kita tidak bisa melihat isi kantong tersebut, tetapi biasanya isinya cukup banyak yang total harga sebenarnya adalah 3 sampai 10 kali lipat harga yang kita bayar di kasir.

*Penulis adalah dosen di Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Untan. Menyelesaikan program S2 dan S3 di Jepang dengan beasiswa dari Pemerintah Jepang.

Topics: OPINI ILMIAH