Universitas Tanjungpura
Universitas Tanjungpura

Menciptakan Karakter Mahasiswa Universitas Tanjungpura Melalui Konsep SAINS (Dalam Perspektif Teknik Kendali)

Posted 1163 days ago by php

Penulis: Dr. Eng. Ferry Hadary, S.T., M. Eng. *

Menyimak pemberitaan akhir-akhir ini di media massa tentang perkelahian mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tanjungpura, tentu membuat siapa saja prihatin. Kampus yang semestinya tempat mereka menempa ilmu justru menjadi media pelampiasan tindakan anarkis. Hal ini sungguh sangat disayangkan karena mahasiswa adalah kalangan terpelajar, aset masa depan bangsa dan selayaknya menjadi teladan bagi masyarakat.

Perkelahian antar fakultas, yang juga terkadang melibatkan fakultas yang lain, sebenarnya telah terjadi beberapa kali di universitas kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat ini. Sulit bagi seseorang, bahkan dalam bentuk kesepakatan damai, yang dapat menjamin agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari. Kalaulah ada suatu jaminan dari hasil perkelahian, itu hanyalah kerusakan gedung atau hancurnya sarana prasarana yang ada di kampus. Padahal sarana prasarana tersebut justru digunakan dalam proses pendidikan dan pengajaran bagi mahasiswa.
Timbulnya permasalahan di atas ditengarai karena adanya fanatisme kelompok yang berlebihan. Benarkah? Hal ini bisa dicontohkan sebagai berikut. Mahasiswa di sebuah fakultas merasa bahwa sarana prasarana yang dimilikinya hanyalah yang terdapat di fakultasnya saja. Sementara mahasiswa di fakultas lain juga memiliki pola pikir yang sama. Karakter memiliki atau keterpunyaan ini lebih bersifat parsial. Oleh karena itu ketika mahasiswa tersebut melakukan perusakan sarana prasarana di fakultas lain, ia merasa itu bukanlah miliknya, tetapi hanyalah milik fakultas tersebut. Wujud fanatisme kelompok ini semakin subur dengan adanya lagu atau yel-yel khusus di setiap fakultas ketika penerimaan mahasiswa baru atau kegiatan-kegiatan tertentu. Yel-yel ini tentu saja baik adanya, namun ketika diwarnai ego sehingga merasa lebih dari mahasiswa fakultas lain, tentu ini telah salah kaprah. Jelas di sini ada yang hilang, yaitu karakter kebersamaan yang mestinya dimiliki oleh setiap mahasiswa, terlepas dari ikatan primodial.

Tulisan ini mencoba untuk menawarkan suatu konsep yang penulis sebut dengan Kebersamaan Terintegrasi atau disingkat dengan SAINS. Penekanan konsep ini adalah pada karakter kebersamaan yang mestinya dimiliki oleh setiap mahasiswa dan diterapkan melalui tiga sub-sistem atau plant, yaitu: 1) aktivitas akademik; 2) penggunaan sarana prasarana; dan 3) kegiatan kemahasiswaan. Konsep ini juga mengikutsertakan pihak prodi, jurusan, fakultas dan universitas sebagai fasilitator serta penggerak (actuator) visi, misi dan tujuan Universitas Tanjungpura. Sementara itu Dewan Moral (De-Amor) berfungsi sebagai sensor yang mengawasi agar luaran sistem tetap berjalan pada jalurnya dan bersifat sebagai umpan balik (feedback) pada sistem secara keseluruhan. Secara detil konsep ini direpresentasikan dalam bentuk diagram blok seperti gambar di bawah dan dibuat serta dianalisis berdasarkan latar belakang bidang keilmuan penulis, yaitu Control Systems and Robotics Research Group.

Gambar 1 Diagram Blok Konsep SAINS

Pada gambar di atas, konsep SAINS terdiri dari sub-sistem controller, actuator, plant dan sensor dimana pelaku dalam setiap sub-sistem tersebut adalah seperti tertera pada gambar. Input di sini adalah berupa variabel, yaitu mahasiswa, dengan visi, misi, dan tujuan universitas adalah pengendalinya (controller). Controller di sini bersifat mengendalikan variabel berdasarkan peraturan yang dimiliki Universitas Tanjungpura. Pihak prodi, jurusan, fakultas dan universitas berfungsi sebagai pelaksana atau penggerak (actuator) serta menerapkannya pada plant. Dewan Moral (De-Amor) bertindak sebagai sensor dimana pelakunya terdiri dari wakil universitas, wakil para dosen serta wakil-wakil dari BEM setiap fakultas.
Objek yang akan dikendalikan, atau disebut dengan plant adalah terdiri dari tiga sub-sistem yang akan menerapkan peraturan dan kebijakan yang mengacu pada input dari plant tersebut. Ketiga faktor ini diuraikan lebih khusus oleh penulis pada uraian di bawah. Jika output dari sistem ini adalah mahasiswa yang memiliki karakter Kebersamaan Terintegrasi (SAINS), maka itu adalah luaran yang ideal. Tetapi ketika bakal luaran ini tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka akan diumpanbalikkan (feedback) kembali sehingga tercapai luaran ideal. Kondisi ini dapat terjadi beberapa kali sebagai makna dari sistem kendali lup tertutup (closed loop control system).

Adanya keterkaitan dari setiap komponen dan sub-sistem serta umpan balik sebagai penyempurna, itulah makna dari konsep SAINS yang coba penulis tawarkan sebagai sebuah solusi.

Aktivitas Akademik
Kebersamaan ini bisa dimulai dari aktivitas akademik, yaitu perkuliahan. Mata kuliah-mata kuliah tertentu dari beberapa prodi atau fakultas semestinya dapat dilaksanakan secara bersama atau berbentuk stadium general. Mata kuliah ini sebagai contohnya adalah mata kuliah umum (MKU). Mahasiswa dari beberapa prodi yang letak mata kuliahnya adalah pada semester yang sama (genap atau gasal) dapat saja melakukan perkuliahan bersama. Tentu sulit mengatur agar semua prodi yang ada di Universitas Tanjungpura dapat berkumpul pada satu kali pertemuan. Solusinya, bisa saja perkuliahan tersebut suatu waktu dihadiri oleh mahasiswa dari dua sampai dengan tiga prodi dari fakultas yang berbeda. Kemudian mahasiswa dari masing-masing prodi dirotasikan lagi dengan prodi-prodi dari fakultas lainnya. Ini dilakukan secara penuh dan kontinu pada setiap semester.

Aktivitas akademik ini terkait erat dengan peran Pembantu Rektor I yang mengkoordinir Pembantu Dekan I serta dibantu oleh Kasubbag Akademik di setiap fakultas yang memang harus bekerja keras dalam menyusun jadwal perkuliahan, khusus untuk mata kuliah-mata kuliah tersebut.
Dengan adanya kegiatan perkuliahan secara bersama ini, perlahan-lahan setiap mahasiswa di sebuah prodi akan lebih mengenal mahasiswa di prodi lainnya sehingga akan menciptakan kebersamaan yang terintegrasi.

Penggunaan Sarana dan Prasarana
Kegiatan akademik seperti yang dikemukakan pada butir sebelumnya, sebaiknya dilakukan pada ruangan-ruangan yang ada di setiap fakultas secara bergiliran. Ini dimaksudkan agar mahasiswa di sebuah prodi tidak hanya pernah menggunakan ruang kuliah (termasuk sarana prasarana lainnya) di fakultasnya saja, tetapi mereka juga pernah melakukan perkuliahan pada ruangan di fakultas yang berbeda. Dengan demikian, mahasiswa merasa bahwa sarana prasarana yang walaupun tidak terletak di fakultasnya, itu adalah juga milik mereka.

Peran Pembantu Rektor II yang mengkoordinir Pembantu Dekan II serta dibantu oleh Kasubbag Umum sangat dibutuhkan di sini. Secara teknis, pemetaan ruangan skala besar di setiap fakultas harus diinventarisasi. Aplikasi sistem komputerisasi (Sistem Informasi Manajemen/SIM) juga dapat membantu operasional penggunaan ruangan dengan mudah. Dengan aplikasi SIM ini setiap mahasiswa dan dosen dapat secara online mengetahui ruangan kelas yang akan digunakannya untuk perkuliahan. Operator yang ditunjuk, khusus menginput data ruangan kelas serta denahnya berdasarkan database yang telah diberikan oleh Kasubbag Umum di setiap fakultas.
Dari konsep ini diharapkan mahasiswa di sebuah fakultas akan mempunyai rasa memiliki sarana prasarana di fakultas yang berbeda.

Kegiatan Kemahasiswaan
Dari dua butir faktor di atas, butir ketiga inilah yang lebih memercepat terwujudnya konsep SAINS. Apa yang terekam oleh penulis adalah bahwa aktivitas atau kegiatan mahasiswa selama ini juga terjadi parsialisasi di setiap fakultas. Bahkan sangat disayangkan ketika kegiatan tersebut justru memiliki banyak ciri yang sama. Ketika ciri-ciri itu lebih banyak persamaan, semestinya kegiatan tersebut dapat digabungkan saja. Misalnya, festival musik, seni, olah raga, dan lain sebagainya. Pelaksana atau event organizer kegiatan tersebut juga tidak hanya dari satu fakultas, tetapi dari beberapa fakultas. Kegiatan yang terlalu banyak, padahal ternyata lebih memiliki ciri yang sama, juga akan membutuhkan dana, waktu serta tenaga.
Konsep SAINS yang penulis tawarkan adalah sebaiknya kegiatan atau even yang dilakukan tersebut cukup satu kali saja, misalnya dilaksanakan pada saat libur panjang akhir semester genap (sekitar bulan Juli-Agustus). Pada even ini kepanitiaan melibatkan mahasiswa dari setiap fakultas sehingga mereka lebih mengenal satu dengan yang lainnya. Even ini bisa saja mengagendakan musik, sampai dengan produk dari setiap UKM, himpunan jurusan atau klub-klub di setiap fakultas. Misalnya, klub elektronika menyajikan produk rangkaian yang telah dihasilkan, klub robot juga memperlihatkan robot-robot hasil kreativitasnya, klub pecinta kebun/tanaman menjual hasil usaha perkebunan, LISMA membanggakan karya tulis ilmiah anggotanya, dan lain sebagainya. Even ini juga dapat dimanfaatkan oleh masing-masing laboratorium untuk kegiatan open lab sehingga masyarakat dapat melihat langsung hasil penelitian dari laboratorium tersebut. Kegiatan ini bisa dilakukan selama 3 hari berturut-turut dan tentu saja akan mengundang hasrat masyarakat luas untuk menontonnya.

Pada kegiatan mahasiswa ini, tentu peran Pembantu Rektor III yang mengkoordinir Pembantu Dekan III serta dibantu Kasubbag Kemahasiswaan sangat diperlukan. Kegiatan mahasiswa yang jelas membutuhkan dana ini tentu juga mengharapkan Pembantu Rektor IV untuk melakukan upaya kerjasama atau mencari pihak sponsor kegiatan.

Melalui kegiatan bersama ini, yang kepanitiaannya terbentuk dari keterlibatan mahasiswa-mahasiswa yang berbeda asal fakultas, tentunya keakraban dan kebersamaan akan segera tercipta di antara mereka. Serta berangsur-angsur juga mengikis rasa dendam, jika ada, dan fanatisme kelompok yang berlebihan. Dari saling mengenal, timbul keakraban, maka karakter kebersamaan pun cepat terwujudkan.

Dari inti konsep SAINS serta penjabarannya yang penulis tawarkan ini, hanyalah suatu upaya sumbangsih pemikiran dari seorang akademisi, tanpa sama sekali ada maksud untuk menggurui siapapun dan pihak manapun. Luaran dari konsep ini pula mungkin belum dapat terukur dalam waktu singkat, karena memang dibutuhkan cukup waktu untuk melihatnya. Adapun sebuah harapan hanyalah agar peristiwa serupa tidak akan terjadi lagi di masa mendatang dan terbentuklah intelektual-intelektual muda yang menjadi harapan bangsa. Semoga.

fakultas
Buku Tamu
Kotak Saran