Potensi Budidaya Rumput Laut di Sekitar Pulau Lemukutan

Potensi Budidaya Rumput Laut di Sekitar Pulau Lemukutan

 

Foto : Muhammad Ishak Jumarang/Vivi

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Pada 2009-2010, Muhammad Ishak Jumarang melakukan penelitian mengenai arus dan kondisi oceanografi sanisitas dan temperatur di sekitar Pulau Lemukutan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, untuk penelitian dana hibah kompetitif tingkat nasional. Sambil meneliti, Ishak juga mempelajari  potensi menanam dan budidaya tanaman rumput laut di sekitar Pulau Lemukutan.

Pada tahun pertama penelitiannya lebih berfokus pada apakah arus, temperatur, dan sanisitas di sekitar Pulau Lemukutan cocok untuk ditanam rumput laut. Pada tahun kedua, Ishak dan tim peneliti melakukan penanaman beberapa jenis bibit rumput laut jenis tertentu, yang didatangkan dari Jepara, Sumatera, dan Makasar.

Metode penanaman menggunakan model kerambah atau terapung. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ternyata bibit yang paling produktif dan tahan terhadap kondisi air di Lemukutan adalah bibit yang didatangkan dari Makassar.

“Selama ini, masyarakat sekitar hanya sekadar menanam saja, tanpa memperhatikan jenis bibit rumput laut apa yang cocok ditanam dan sesuai dengan kualitas arus, temperatur, dan sanisitas di sekitar Lemukutan, sehingga hasil yang didapat tidak maksimal,” ujar Ishak.

Yang menarik, kata Ishak ada dua pantai di sekitar Lemukutan, yaitu Pantai Melano Barat dan Pantai Melano Timur yang aktivitas gelombang di Pantai Melano Timur sepanjang tahun tidak begitu kuat dan lebih rendah dibanding Pantai Melano Barat. Pantainya juga lebih landai dibanding Pantai Melano Barat yang kondisi perairannya lebih dalam sehingga menyulitkan untuk menanam rumput laut. Ditambah lagi dengan areal penanaman di Melano Timur yang luas sehingga sangat memungkinkan untuk menanam dan membudidayakan tanaman rumput laut.

Namun, Ishak mengatakan masih ada sejumlah kendala yang juga dihadapi selama penelitian berlangsung, yaitu adanya keluhan dari masyarakat sekitar mengenai kondisi listrik yang hanya hidup di malam hari, itupun masih mengandalkan tenaga diesel. Di sisi lain, kondisi angin di sana sangat kencang. Ishak dan tim tertarik meneliti kondisi angin di Lemukutan.

“Saya ingin mengkaji lebih dalam tentang aktivitas  arus, gelombang, dan  angin di sana yang berpotensi dijadikan tenaga listrik sebagai pengganti diesel,” tandasnya.

Muhammad Ishak Jumarang

Wakil Dekan II Fakultas MIPA Untan

 

(Vivi/Dede)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *