Kemlu RI Gandeng Untan dalam Diskusi Publik Asia Pasifik

Kemlu RI Gandeng Untan dalam Diskusi Publik Asia Pasifik

Kementrian Luar Negeri (Kemlu) menggandeng Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Tanjungpura (Untan) dalam Diskusi Publik dengan tema “Updates from the Region; Politik Luar Negeri dan Penguatan Kerja Sama Indonesia dengan Kawasan Asia Pasifik”. Bertempat di Aula Magister Ilmu Sosial, Jumat (25/01/2019)

Acara ini menghadirkan Ben Perkasa Drajat selaku Diplomat Ahli Utama Direktorat Asia Timur dan Pasifik (Astimpas), Ida Bagus Made Bimantara selaku Kepala Sub-Direktorat Astimpas, Alexander Rombonang dari Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Barat, dan Memed Agustiar Pakar Ekonomi Regional dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untan. Serta, dihadiri pula oleh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah dari Kalimantan Barat, Dekan, dan segenap dosen dari FISIP Untan.

Diskusi dipandu oleh Penggiat Studi Ilmu Hubungan Internasional alumni Universitas Padjajaran Bandung, Adityo Darmawan Sudagung.

Ben Perkasa Drajat dalam materinya terkait Kerja Sama Indonesia dengan negara Asia Pasifik menjelaskan bahwa Asia Pasifik memiliki arti penting bagi Indonesia. Sebab Indonesia menjadi mitra kerja sama yang strategis bagi negara di Asia Pasifik terkait isu perubahan iklim, maritim dan pembangunan yang berkelanjutan.

Diplomat Ahli Utama alumni Australia itu menuturkan bahwa Kawasan Pasifik dapat menjadi penguat dukungan dan mitra kerja sama regional seperti Melanesian Spearhead Group.

“Pendekatan kerja sama ekonomi Indonesia itu dapat dilakukan dengan menembus pasar non-tradisional yang prospektif dengan berbagai kerja sama baik regional, bilateral, maupun multilateral,” ujar pria yang bergabung di Kemlu sejak tahun 1990 itu.

Kepala Sub-Direktorat Astimpas, Bagus Made Bimantara mengungkapkan, Indonesia sudah membuka jalan kerja sama ke beberapa negara di Asia Pasifik, seperti Australia dan Selandia Baru. Hal tersebut akan terus dilanjutkan agar tujuan dari Politik Luar Negeri Indonesia dapat dicapai.

Senada dengan Made, Alexander Rombonang juga membenarkan potensi kerja sama ekonomi yang dimiliki Indonesia. Seperti potensi ekspor Sumber Daya Mineral dan Batu Bara Bauksit dan daging babi yang tercatat sebagai komoditi ekspor terbesar yang dimiliki oleh Kalimantan Barat. Sesuai regulasi kerja sama luar negeri dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 23 Tahun 2014 bahwa Pemerintah Daerah memiliki aksesibilitas untuk menjalin hubungan kerja sama. Menurutnya, berbagai komoditi ekspor yang memiliki potensi harus dipersiapkan dan dioptimalkan dengan baik.

Di sisi lain, Memed selaku akademisi dan pengamat ekonomi regional menjelaskan bahwa Kalimantan Barat memiliki potensi ekspor pada beberapa sektor, seperti perdagangan karbon, kebutuhan teknologi berbasis lingkungan, sawit, karet, dan madu hutan.

Menutup diskusi, Adityo sebagai moderator menarik kesimpulan dengan ungkapan “Optimisme harus terus disebar. Meskipun kita menyadari masih banyak PR yang harus dituntaskan bersama dengan semangat kebersamaan untuk mencapai tujuan bersama”. (Hardi Alunaza SD)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *