Lokalatih Restorasi Gambut di KHDTK Untan Melalui Pengembangan Kaliandra

Lokalatih Restorasi Gambut di KHDTK Untan Melalui Pengembangan Kaliandra

Perebutan lahan karena berbagai kepentingan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi setiap tahunnya, adanya praktek ilegal loging dan pemanfaatan hutan maupun lahan yang tidak berpihak pada prinsip kelestarian yang berkelanjutan, berimbas pada menipisnya hutan terutama di Kalimantan Barat khususnya Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK Untan) Universitas Tanjungpura yang berada di Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak.

KHDTK Untan terdiri dari hutan gambut dan hutan mineral dan terdapat 11 desa yang berada di dalam atau di sekitar KHDTK sebagai pelaku utama selain Untan dalam pengelolaan dan perlindungan hutan, lahan dan gambut yang sudah tertuang dalam sebuah kesepakatan (MoU) kolaborasi pengelolaan dan perlindungan gambut KHDTK antara Fakultas Kehutanan Untan dan 11 desa yang berada di KHDTK.

Praktek pemanfaatan hutan maupun lahan yang tidak lestari serta ancaman kerusakan hutan dan lahan lainnya tersebut telah mempengaruhi kemudahan dalam memenuhi kebutuhan sumber bahan bakar dari kayu bagi masyarakat serta dampak lain yang sangat merugikan. Selain itu, varian usaha untuk mengatasi atau mencegah kerusakan (mitigasi) hutan maupun lahan masih banyak yang belum efektif untuk diterapkan ke semua wilayah yang berbeda karakteristik bentang alamnya dan masih perlu dikembangkan dengan prinsip pemanfaatan hutan yang lestari dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan.

Salah satu varian mitigasi kerusakan hutan maupun lahan dan restorasi hutan maupun lahan yang ditawarkan adalah penanaman tumbuhan Kaliandra (C. calothyrsus) yang berbunga merah. Kaliandra merupakan jenis dengan sebaran alami dari Mexico sampai Panama ini menunjukkan penampilan yang sangat bagus di Indonesia sebagai tanaman jenis multi guna. Kaliandra memiliki banyak kegunaan yaitu untuk kayu energi, pakan ternak, pengontrol erosi, perbaikan tanah karena kemampuannya mengikat nitrogen dan memproduksi seresah, penahan api, serta bunganya yang bagus sebagai penghias jalan dan sumber nektar bagi lebah. Pohon Kaliandra yang ditanam di lereng bukit sepanjang garis kontur dapat menahan tanah dan akhirnya membentuk teras alami.

Selain itu C. calothyrsus juga telah digunakan untuk merehabilitasi tanah masam yang tidak produktif dan ditumbuhi alang-alang (Imperata cylindrica). Oleh karena itu C. calothyrsus termasuk salah satu jenis yang dipilih untuk dimuliakan. Pertimbangannya adalah atas dasar kecepatan tumbuhnya, budidayanya yang mudah, benihnya yang melimpah, kemampuannya tumbuh di lahan lahan-lahan masyarakat serta kecocokannya sebagai kayu energi karena nilai kalornya yang relatif tinggi.

Produk dari Kaliandra umumnya adalah berupa kayu bakar atau kayu arang, namun dengan adanya kebutuhan pelet maka jenis ini dibuktikan mampu untuk suplai bahan baku pelet untuk tujuan energi. Selain itu kandungan ligninnya cukup tinggi yang akan mengurangi biaya perekatan pelet dan meningkatkan potensi thermal.

Pembuatan pelet mulai dikembangkan karena dianggap praktis dan dapat memanfaatkan kayu dengan ukuran dimensi yang kecil sekalipun termasuk cabang – cabangnya serta bisa diekspor. Selama ini industri-industri tersebut sebagian besar masih tergantung padai pasokan kayu dari masyarakat yang tidak menentu. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan Intensifikasi untuk meningkatkan produksi pada lahan yang terbatas. Salah satunya dengan menghasilkan tanaman unggul yang cocok ditanam di lahan-lahan masyarakat maupun di lahan yang kurang produktif. Tanaman ini yang memiliki sifat cepat tumbuh dan mudah hidup diharapkan mampu menghasilkan kayu energi yang berkualitas.

Sementara itu pasar pelet dari biomassa kayu untuk tujuan energi juga sangat menjanjikan di Eropa, Amerika dan Korea Selatan. Korea bahkan menargetkan impor 5 juta ton pelet pada tahun 2020 untuk memenuhi 75% kebutuhan dalam negeri. Dalam rangka mencapai target tersebut, maka didirikanlah perusahaan wood pelet Korea (PT. Solar Park Indonesia) di Wonosobo, Jawa Tengah. Perusahaan tersebut sudah beroperasi memproduksi sebanyak 48 ribu ton pada tahun 2009 dan meningkat menjadi 224 ribu ton pada tahun 2013, untuk memenuhi kebutuhan pasar pelet yang tinggi tersebut. Selama ini perusahaan masih menggantungkan pasokan dari sisa industri kayu dan setoran masyarakat, sehingga berbagai upaya dilakukan dengan mencari jenis tanaman yang cocok sebagai sumber bahan baku pelet.

Penanaman Kaliandra dengan menggunakan bibit unggul akan sangat menjanjikan untuk memenuhi pasokan industri pelet. Secara umum pangkasan pertama tanaman C. calothyrsus pada 50 cm di atas tanah dapat menghasilkan kayu bakar 5-20 m3/ha dan perlakuan tahunan serta bibit unggul dapat menghasilkan 35-65 m3/ha kayu bakar. Penanaman hanya sekali, namun dapat menghasilkan produksi tahunan berupa pangkasan cabang untuk dijual oleh petani ke industri pelet, sehingga akan memberi pemasukan bagi masyarakat, sekaligus memperbaiki lingkungan dengan menahan erosi dan menambah kesuburan tanah.

Dekan Fakultas Kehutanan Untan, Dr. Ir. Gusti Hardiansyah M.Sc QAM menyampaikan, berbagai pertimbangan tersebut menjadi dasar dilaksanakannnya kegiatan Lokalatih Restorasi Gambut di KHDTK Untan Melalui Pengembangan Kaliandra Sebagai Pakan ternak, Nektar Lebah Kelulut dan Kebun Energi atau Biomass. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Kehutanan Untan yang bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar dan Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup, serta didukung oleh ICCTF-BAPPENAS.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah peserta dapat memahami manfaat penanaman Kaliandra sebagai pakan ternak, nektar lebah Kelulut dan kebun energi atau biomass serta langkah restorasi lahan kritis guna peningkatan pendapatan masyarakat dan pengembalian fungsi lahan,” jelas Dr. Gusti Hardiansyah di Aula Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar, Rabu (31/10/2018).

Dr. Gusti Hardiansyah menambahkan, hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah tersosialisasinya atau meningkatnya pemahaman peserta tentang manfat penanaman Kaliandra sebagai pakan ternak, nektar Lebah Kelulut dan kebun energi (Biomass) serta langkah restorasi lahan kritis guna peningkatan pendapatan masyarakat dan pengembalian fungsi lahan serta tersusunnya rencana penanaman kaliandra di 11 desa yang berada di sekitar KHDTK.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat yang membuka acara Lokalatih Restorasi Gambut di KHDTK Untan  ini, Marius Marcellus TJ SH MM, menyampaikan kegiatan ini harus terus didukung sebagai salah satu program kemitraan Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar bersama Fakultas Kehutanan Untan yang sudah diberikan hak untuk melakukan pengolahan terhadap sebuah kawasan yang kita kenal KHDTK, dengan melibatkan 11 desa.

“Desa-desa yang ada harus kita dorong juga, jangan cuma bisa kita larang, tapi juga kita beri solusi, Restorasi Gambut di KHDTK ini salah satu program yang bisa dijadikan suatu percontohan, dan kita sekaligus mengintegrasikan desa-desa yang ada tidak lagi menjadi desa dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, dan kami terus dorong untuk bisa berstatus desa mandiri,” ujar Marius Marcellus.

Lokalatih Restorasi Gambut di KHDTK Untan ini dihadiri oleh Kapolda Kalimantan Barat yang diwakili oleh Pembina FORMATAN, Pemerintah Desa Simpang Kasturi, Pemerintah Desa Mandor, Pemerintah Desa Kayu Ara, Pemerintah Desa Sumsum, Pemerintah Desa Sui Segak, Pemerintah Desa Retok , Pemerintah Desa Kubu Padi , Pemerintah Desa Peniti Besar, Pemerintah Desa Peniti Dalam I, Pemerintah Desa Peniti Dalam II , Pemerintah Desa Kayu Tanam, Pengelola KHDTK, Civitas Akademika Fakultas Kehutanan, PT. Muara Sungai Landak, PT. Berkah Nabati Nusantara, Ir. Andi Sukendro, M.Si, Abdullah Bastian (Koperasi Kebun Tanaman Sejahtera), Deby Riniardi (Perbankan).

(Sukardi)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *