Makna Spiritual Dibalik Arsitektur Rumah Tradisional Melayu dan Dayak di Kalbar

Makna Spiritual Dibalik Arsitektur Rumah Tradisional Melayu dan Dayak di Kalbar

 

 

Foto : Dr. techn. Zairin Zain, ST, MT/Dokumen Pribadi

 

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Arsitektur Rumah Tradisional Suku Melayu di Pontianak dan Sambas, serta Suku Dayak di Kapuas Hulu, sarat akan makna spiritual. Selain indah, arsitektur tradisional juga sangat dekat dengan alam, serta menjadi bagian dari tradisi masyarakat suku Melayu dan Dayak tempo dulu. Sebagai contoh, Rumah Panggung Suku Melayu tempo dulu yang tinggi, merupakan antisipasi untuk menghadapi banjir di musim hujan.

Ketika banjir datang, maka air akan mencari jalan keluarnya. Ini berbeda dengan desain bangunan modern saat ini yang rendah dan fondasinya langsung di atas tanah, sehingga ketika banjir datang, air meluap dan tidak meresap dengan baik.

Saat melakukan pengumpulan data di Tayan, Sanggau, untuk menyusun disertasinya, Zairin Zain, Dosen Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Untan, mengamati bahwa arsitektur rumah tempo dulu yang tinggi dan menghadap Sungai Tayan, tidak tenggelam meski air sungai meluap. Sebaliknya, arsitektur rumah modern di sekitarnya yang lebih rendah dan dekat dengan tanah, banyak yang tenggelam saat air sungai pasang. Ini dikarenakan arsitektur rumah modern yang fondasinya terlalu dekat dengan tanah. Alasan dibuat fondasi yang rendah agar mereka tidak repot menurunkan motornya dari rumah ke halaman depan.

“Kita lupa bahwa kita harus bersahabat dengan alam. Kalau kita bersahabat dengan alam, maka alam juga akan bersinergi dengan kita,” ujar Zairin kepada thetanjungpuratimes.com.

Ruang tamu yang luas pada rumah Melayu tempo dulu, merupakan bagian dari tradisi suku Melayu Kalbar yang senang menerima tamu dalam jumlah banyak dan makan bersama secara saprahan, dengan duduk berderet di atas papan, serta menghadap makanan yang diletakkan di atas kain yang panjang.

Zairin juga sempat melakukan penelitian di Sambas (saat mengambil program magister) untuk meneliti rumah panggung tradisional Suku Melayu, serta di Kapuas Hulu (saat mengambil program doktor) guna meneliti rumah panjang suku Dayak. Beberapa tradisi Melayu yang sangat kental bisa terlihat dari penataan kamar utama yang ditempati oleh orangtua, sehingga anak-anak tidak bebas masuk begitu saja tanpa ijin. Ruang keluarga juga letaknya berdampingan dengan kamar tidur orangtua.

Rumah tradisional suku Melayu juga biasanya memisahkan antara ruang tamu dan keluarga dengan gorden. Ini menandakan bahwa tamu yang bukan keluarga atau teman dekat, tidak diizinkan masuk ke ruang keluarga, tapi hanya boleh sebatas ruang tamu. Selain itu, rumah tradisional suku Melayu juga menggunakan pintu samping. Ini bertujuan untuk memudahkan para keluarga dekat (khususnya perempuan) untuk melewati pintu samping ketika bertamu, tanpa harus melewati pintu depan, yang biasanya diperuntukkan bagi tamu lelaki.

Sementara  pada arsitektur  Rumah Betang Suku Dayak, terdapat pembagian zonasi seperti zona umum, zona pribadi, dan sangat pribadi. Zona umum biasanya terletak di bagian paling depan rumah dan tidak terdapat pintu (hanya berupa lubang besar), sehingga siapapun dapat bermalam disana. Hal ini serupa dengan teras pada Rumah Melayu tempo dulu yang biasanya terdapat kursi kayu untuk orang yang ingin menumpang duduk atau bermalam.

Setelah melewati zona umum, terdapat zona pribadi (disebut Teluh) tempat anggota keluarga atau tamu tertentu boleh melintas dari satu bilik ke bilik lain. Sementara itu, ada istilah Ruai, yang merupakan tempat penghuni rumah melakukan aktivitas bersama. Umumnya, mereka akan menerima tamu di teras depan yang terdapat tikar. Jika mereka mengadakan acara dan mengundang tetangga serta kerabat dalam jumlah besar, mereka akan menerimanya di lorong bagian tengah Rumah Betang.

Filosofi spiritual pada arsitektur rumah tradisional Suku Melayu dan Dayak  berhubungan dengan kepercayaan mikro kosmos yang berhubungan dengan energi alam, dan makro kosmos yang berhubungan dengan Tuhan.  Rumah Melayu tempo dulu umumnya dibuat bertingkat-tingkat, dengan lokasi dapur yang terletak lebih rendah dan terpisah dari bangunan utama. Ini berdasarkan kepercayaan Suku Melayu yang mayoritas beragama Islam, bahwa dapur adalah tempat yang kotor, sehingga orang enggan untuk sholat di situ. Sementara semua bagian lain dalam sebuah rumah panggung Suku Melayu, termasuk teras depan, dapat digunakan untuk sholat, sedangkan alas kaki harus dilepas di tangga.

Pada rumah adat Suku Dayak, makin ke bagian tengah, dianggap makin sakral. Di daerah Sintang dan Putussibau, terdapat bagian rumah yang disebut Sadau. Sadau dianggap bagian yang sakral tempat mereka menyimpan padi. Padi disimpan ditempat paling atas karena dianggap berhubungan dengan energi makro kosmos. Mereka menganggap padi sebagai anugerah Tuhan yang harus dihargai. Sedangkan binatang peliharaan terdapat di bawah Rumah Betang yang tinggi, karena mereka mengaggap binatang tersebut sebagai energi negatif  yang dapat mengganggu kehidupan mereka.

”Mereka sangat percaya dengan adanya kekuatan yang lebih besar dari diri mereka. Ini yang membedakan rumah tradisional kita dengan rumah tradisional Eropa,” kata Zairin.

Sumber :

Dr. techn. Zairin Zain, ST, MT *)

*) Dosen Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Untan; Directur  Pearson Test of English-Academic Center Untan

(Vivi/Mohammad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *