Pendidikan, Kunci Hadapi Pasar Bebas

Pendidikan, Kunci Hadapi Pasar Bebas

Foto : Prof. Dr. Eddy Suratman, SE, MA / Dokumen Pribadi

Pendidikan, Kunci Utama Keunggulan Kalbar Hadapi Pasar Bebas ASEAN 2016

Prof. Dr. Eddy Suratman, SE, MA *

Pontianak, thetanjungpuratimes.com-MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2016 merupakan penyatuan ASEAN dalam bidang ekonomi, sehingga arus tenaga kerja, barang dan jasa bebas keluar-masuk antar negara ASEAN.
Sebelum ASEAN, pasar tunggal Eropa telah terlebihdahulu dilakukan yang pada akhirnya mereka sepakat menggunakan mata uang tunggal yang digunakan oleh semua negara Eropa-kecuali Inggris, yaitu Euro.

Kompetisi menjadi syarat utama yang harus kita miliki jika ingin unggul dalam era pasar bebas MEA 2016 ini. Produk yang kita hasilkan harus berkualitas agar mampu bersaing dan menembus pasar ASEAN. Selain barang dan jasa, tenaga kerja kita juga harus berkualitas agar unggul dalam berkompetisi dengan tenaga kerja lain di seluruh ASEAN. Dan agar berkualitas, maka pendidikan tinggi adalah syarat mutlak.

Saat ini, tingkat pendidikan di Kalbar masih rendah. Hal ini dilihat dari tiga ukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kalimantan Barat, yakni Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi.

Saat ini, indeks IPM Kalbar berada di peringkat 29 dari 34 propinsi di Indonesia. Dari aspek pendidikan, rata-rata lamanya waktu sekolah masih sekitar 7,2 tahun. Ini berarti, sebagian besar masyarakat Kalbar belum tamat SMP. Karena itu, pekerjaan berat Pemerintah Propinsi Kalbar adalah meningkatkan sektor pendidikan agar siap menghadapi MEA 2016.

Sementara itu, di bidang infrastruktur, masih banyak kekurangan di Kalbar. Sebagai contoh, dengan adanya UU Minerba No. 4 Tahun 2009 yang melarang ekspor barang mentah. Barang mentah harus diolah terlebihdahulu di smelter, sementara masalah utamanya kurangnya listrik.

Di Kalbar terdapat kekurangan listrik, jalan masih banyak yang rusak, serta pelabuhan yang belum memenuhi standar, menyebabkan proses produksi tinggi dan pada akhirnya harga jual barang yang dihasilkan menjadi mahal dan tidak siap bersaing.

Untuk mengatasi masalah di atas, Pemerintah Propinsi Kalbar sebaiknya mengalokasikan anggaran untuk belanja langsung perbaikan infrastruktur, seperti jalan dan listrik. Sedangkan untuk pembangunan pelabuhan samudera yang notabene merupakan wewenang pemerintah pusat, pemerintah propinsi Kalbar harus dapat meyakinkan pemerintah pusat untuk segera membangun pelabuhan samudera di Pontianak, Kalbar.
Untuk listrik, masalah di Kalbar dapat terpecahkan dengan membeli listrik dari Malaysia, agar pembangunan smelter pertambangan di Kalbar tidak lagi menjadi kendala berarti. Pembangunan industri pengolahan Kelapa Sawit dan Karet menjadi barang jadi tidak lagi bermasalah. Pemprop Kalbar dapat menetapkan Kabupaten Landak dan Kabupaten Ketapang sebagai dua dari 14 kawasan industri baru di Indonesia, akan berjalan dengan baik karena infrastruktur tersedia.

Pengangkutan barang dari dan ke Kalbar otomatis menjadi lebih cepat dan murah, jika infrastrukturnya baik. Akibatnya, biaya proses produksi barang di Kalbar akan lebih murah sehingga lebih bisa berkompetisi dengan produk luar dan lebih siap memasuki pasar bebas MEA 2016.

Subsidi Bunga Bagi Pelaku UMKM

Pemerintah Propinsi Kalbar dapat mencontoh  daerah lain di Indonesia dalam memberikan subsidi bunga bagi pelaku UMKM, yang dapat dialokasikan dari APBD. Jika bunga pinjaman yang ditanggung sebesar 12%, Pemprop Kalbar mensubsidi 5%, berarti pelaku UMKM hanya menanggung bunga pinjaman sebesar 7%.

Saat ini, pengusaha UMKM di Kalbar sebagian besar masih memproduksi barang mentah, bukan barang jadi. Sehingga, nilai tambah produk menjadi rendah. Untuk itu, peran Pemerintah Propinsi Kalbar sangat diharapkan guna mendampingi para pelaku UMKM di Kalbar agar mampu menghasilkan produk berkualitas secara kemasan, mutu serta harga yang bersaing dengan produk dari negara ASEAN lain.

Antara lain dengan mengadakan pelatihan packaging, menciptakan pasar di luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura yang membutuhkan produk UMKM. Pemprop Kalbar juga dapat membantu mempromosikan produk UMKM Kalbar dengan memasang iklan sebanyak dua halaman di majalah milik maskapai penerbangan nasional.

Selain itu, Pemprop Kalbar dapat bersinergi dengan pemerintah kabupaten/kota dalam memastikan bahwa SDM para pelaku UMKM di Kalbar terus meningkat, diantaranya dengan mengadakan pelatihan bagi para pelaku UMKM Kalbar, bagi yang layak dibantu akan mendapat bantuan pinjaman dari pemda dengan subsidi bunga, guna menekan harga produksi.
Pemda Kalbar juga dapat melatih para pelaku UMKM di Kalbar untuk mengikuti pelatihan berbahasa Inggris, guna dapat berkomunikasi langsung dengan calon pembeli di luar negeri.

Disisi lain, saat ini birokrasi di Kalbar, khususnya di Kota Pontianak, mengalami perbaikan. Hal itu dapat dilihat di www.doingbusiness.org (tahun 2015), yang menunjukkan bahwa Kota Pontianak mendapat peringkat 5 terbaik di Indonesia biaya mengurus IMB, kecepatan pengurusan IMB, biaya izin investasi (Pelayanan Terpadu Satu Pintu).

Bahkan Kota Pontianak mendapat pelayanan publik terbaik se-Indonesia 2015 hasil kajian dari Ombudsman RI Wilayah Kalbar. Sumber Daya Manusia aparatur pemerintah, regulasi dan kepastian hukum di Kalbar juga semakin baik.

Untuk Fakultas Ekonomi Untan sendiri, sudah mempersiapkan diri menghadapi MEA sejak tujuh tahun silam, dengan membuka kelas internasional, dengan proses belajar-mengajar sehari-hari menggunakan Bahasa Inggris. Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura telah bekerjasama dengan China, Taiwan dan Jepang untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusan Fakultas Ekonomi Untan.

Dengan Kochi University, Jepang, Fakultas Ekonomi Untan bahkan telah menandatangani MoU, pada bulan Maret mendatang Profesor Satoru dari Jepang akan mengajar di Fakultas Ekonomi Untan. Mahasiswa Kochi pernah berkuliah di Fakultas Ekonomi Untan dan saat ini mahasiswa Fakultas Ekonomi Untan sedang dalam perjalanan ke Kochi University dalam rangka pertukaran mahasiswa. Mereka tinggal selama 3 bulan di Jepang.

Saat ini, tujuh mahasiswa Fakultas Ekonomi Untan sedang berada di Perlis, Malaysia. Satu mahasiswa sedang berada di Amerika untuk menerima beasiswa Fullbright. Semua itu dikarenakan Fakultas Ekonomi Untan telah go-international dan siap menghadapi era pasar bebas ASEAN 2016.

Fakultas Ekonomi Untan juga mempunya Inkubator Bisnis yang telah berdiri sejak tujuh tahun silam bagi para mahasiswa dan pelaku UMKM yang ingin berlatih mengenai bisnis secara gratis.
Inkubator Bisnis juga menyediakan Credit Union bagi para mahasiswa dan pelaku UMKM di Pontianak. Setiap tahun, para mahasiswa Fakultas Ekonomi Untan juga rutin mengikuti lomba wirausaha muda tingkat nasional.

Sementara itu, di lingkup Universitas Tanjungpura, selain membangun pusat bahasa asing, seperti American Corner, Kedai Perancis, dan BCLC, sebentar lagi juga akan membangun Japan Corner. Semua itu dikarenakan Untan telah go-international dan siap menghadapi era pasar bebas ASEAN 2016.

* Dekan Fakultas Ekonomi Untan; Ekonom Kementerian Keuangan RI

(D S Vivi/Mohammad)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *