Taiwan, Isla Formosa : Macan Asia

Taiwan, Isla Formosa : Macan Asia

 

 

Syarif  Ibrahim Alqadrie *

Pontianak, thetanjungpuratimes.com-Seperti Indonesia, Taiwan memiliki sejarah panjang. Pada periode I, lebih 8.000 tahun lalu, orang-orang Austronesia, penduduk asli Taiwan, pertama kali  mendiami pulau ini (https:// en. Wiki pedia.org/wiki/Taiwan). Mereka berasal dari kawasan paling Selatan merentang sebagian pantai Asia Tenggara (menyerupai orang-orang berbahasa Tagalog dan Melayu Tua yang diperkirakan sub kelompok etnis Manyan di Kalimantan, Badui di Jawa Barat dan Anak Dalam di Sumatera), Samudra Pasifik dan India; paling Barat ke Madagaskar, dan ke Timur Rapa Nui atau Paska di pantai Barat Chile. 

Pada priode II, Abad ke 3, sekitar tahun 230, sampai Abad ke 13M, Dinasti Wu Timur berekspedisi ke Taiwan.  Pada 607M, Dinasti Sui menjelajah ke dan berada pada sejumlah pulau Taiwan. Setelah melalui masa panjang, tahun 1283M Dinasi Yuan menguasai Taiwan. Tiga dinasti ini dianggap sebagai penjajah bangsa Taiwan.

Tidak berbeda dari Indonesia, pada priode III, negara Republic of China (ROC) ini juga pernah dikuasai oleh penguasa Barat dari Portugis, Spanyol, dan Belanda,  sampai   Jepang.  Ketiga bangsa Eropah itu menguasai Taiwan hanya 2 ½ Abad. Mereka meninggalkan bangunan fisik di Taiwan berupa benteng kokoh dinamai Fort Zeelandia dan peninggalan cukup berarti yang sekarang dijadikan Bank of Taiwan di Taipeh dan peninggalan sejarah lainnya. Portugis meninggalkan nama  kepada Taiwan yang sampai sekarang masih dikenal dunia dengan sebutan Pulau Indah (Isla de Formosa)

Walaupun Indonesia hanya mengalami penderitaan 3 ½ tahun (1942- awal 1945) dan Taiwan diperbudak oleh Jepang selama 50 tahun (1895-1945), namun Penjajahan Jepang telah meninggalkan luka amat dalam bagi kedua bangsa itu, karena kekejamannya. Di Indonesia, Khususnya KalBar, sekitar 10.000 orang termasuk 165 pemimpin dan tokoh masyarakat dibantai dalam Peristiwa Mandor Berdarah September 1943-1944 (lihat (https://id.wikipedia. org/wiki/ Peristiwa Mandor).

Selama penjajahan Jepang  korban rakyat di republik ini melebihi jumlah itu, karena perintah atasan untuk membunuh semua orang dan memperkosa wanita Taiwan sebagai reaksi terhadap perlawanan keras rakyat Taiwan. Kekejaman ini mendapat perlawanan keras disertai pemenggalan kepala oleh pasukan rakyat dengan didukung sepenuhnya oleh penduduk asli Taiwan,  khususnya dalam  Tragedi Wushe sepanjang tahun 1930-an (https://id. wikipedia. org/ wiki/ Taiwan _di_bawah pemerintahan_Jepang; http:// www. kompasiana. com/hentakun/ mona-rudao-sebuah-inspirasi-pribumi 55283 fddf17 e61113 18 b45 b3)

Setelah Jepang terusir Taiwan terlibat perang saudara antara dua kekuatan : Tentara Partai Komunis di bawah Mao Tse Tung dengan Partai Nasionalis (Kaomintang) dipimpin oleh Chiang Kai Shek. Pihak kedua mengalami kekalahan total, dan kehilangan lebih dari 1.500.000 tentara. Dengan rasa terhina, mereka melarikan diri ke Pulau Formosa.

Selama 2 abad dikuasai oleh penguasa dari Cina Daratan, 2 1/2 Abad oleh 3 kekuatan Kolonialisme Barat, 50 tahun diperbudak oleh Jepang dan lebih 5 tahun perang saudara, tidak membuat Bangsa Taiwan meratap sepanjang masa, lalu terperosok ke dalam proses negara gagal.  Bahkan sebaliknya, sejarah pahit itu telah mendongkrat Taiwan menjadi salah satu Macan Asiaselain Jepang dan Korea Selatan hanya dalam jangka tidak lebih dari 50 tahun (!).

Negara ini dikucilkan dunia, memiliki hubungan diplomatik hanya dengan 22 negara kecil. Bahkan AS, tadinya sebagai pelindungnya, dan PBB melalui  Resolusinya nomor 2758, mencampakkan Taiwan. Namun, hanya dalam waktu kurang dari 50 tahun, ROC sudah menjadi bangsa yang diperhitungkan dan disegani dunia.

Dengan luas 14.000 mil persegi dan dihuni oleh penduduk sekitar 23 juta jiwa tahun 2010, Taiwan menikmati keberhasilan ekonomi dalam dasawarsa terakhir ini. Pertumbuhannya dari 1960 sampai tahun 2000 rata-rata sebesar 7%. Kemampuan mempertahankan pertumbuhan tinggi dalam waktu lama, belum pernah dialami negara-negara di dunia (https://rizalerdinsyah. wordpress. com/ 2011/ 05/ 03/ kisah-sukses-pembangunan-taiwan).

Taiwan berhasil melaksanakan wajib belajar 12 tahun dari SD sampai SLTA. Bangsa ini telah digolongkan sehat dengan tingkat harapan hidup hingga 75 tahun, kematian bayi sebesar 5 dari 1000 kelahiran, kemiskinan absolut telah dihilangkan, dan tingkat pengangguran terendah setelah Jepang. Negara pulau ini  telah berubah dari negara sedang berkembang menjadi negara maju dengan tingkat korupsi  sangat rendah dan transparansi pemerintah lebih terbuka. Tenaga kerja asing berjumlah lebih dari 2,5 juta orang, sekitar 1 juta dari Indonesia.

Kurang dari 50 tahun sejak berpemerintahan sendiri Taiwan telah memperoleh reputasi dunia dengan melahirkan seorang sutradara film, Ang Lee, dan seorang pemain baseball New York Yankees, Chieng-Ming Wang; dan artis Mando pop seperti Jolin Tsai dan Jay Chou terkenal di dunia. Taiwan tersohor dengan produk film Hollywood seperti ‘City of Sadness’ (1989). Pada 2001, Ang Lee memproduksi ‘Crouching, Tiger, Hidden Dragon’, pertama dirilis tahun 2011.

Walau termasuk negara kecil, Taiwan memiliki 37 Bandara ukuran Soekarno Hatta. Bandara Internasional Taoyuan di Taipei, termasuk tiga besar di Asia Timur, dan pernah mendapat World Best Airport Staff dalam Skytax World Airport Awards 2015. Dalam sektor pendidikan, Taiwan merupakan salah satu dari sejumlah kecil negara Asia: Jepang, Korea Selatan; India, Pakistan, Bangladesh; dan Myanmar dan Timor Timur,  penerima Hadiah Nobel. Lee Yuan-tseh dan Master Chen masing-masing menerima Nobel Bidang Kimia dan Bidang Perdamaian. Selain itu Kuo-cheng Hsieh menerima penghargaan dunia (international award) setingkat Nobel Prize dalam sector pendidikan.

Partisipasi terbaik dalam Olimpiade, yang diikuti Taiwan pada setiap musim, terjadi tahun 1977 ketika negara ini mengirim 22 atletnya dan berhasil memboyong 22 medali emas dalam beragam cabang olahraga (!) Diantara produk-produk Taiwan yang mendunia adalah Acer, Asus dan HTC (electronics); Trend Micro (Software); Master Kong dan Want-Want (makanan dan minuman); Giant dan Merida (sepeda), Synnex (distribution of IT product);  Maxxis, 85 dan Advantech (hardware computer). Taiwan mampu memproduksi dua merek sepeda motor khas negara itu yaitu Kimko dan New GTS yang kualitas mereka sederajat dengan sepeda motor Jepang namun berada di atas kualitas motor buatan Cina Daratan.

Gelar macan Asia bagi Jepang dan Cina (RRC), tampaknya sangat wajar karena kualitas SDM dan teknologi mereka sangat maju. Bayangkan, Jepang pernah memenangkan perang terhadap Rusia (1912). Dari Penghasilan Nasional bruto (GNP) dan Tingkat kesehatan fisik (PQLI) Jepang dan Taiwan sebenarnya sudah menjadi negara maju dunia bersama 8 negara inti seperti AS, Jerman, Inggris, Perancis, Belgia, Italia, Canada dan Australia, setelah 1970. Namun, prestasi itu,  tidak diakui Barat (Imanuel Wallerstein, The World System Theory, 1970). RRC sendiri menduduki negara nomor dua dunia dalam berbagai sector setelah AS antara lain: industri, pertanian, perdagangan, olahraga dan angka rata-rataPQLI.

Pertanyaan menggelitik adalah mengapa Taiwan bisa cepat maju  melesat jauh meninggalkan negara Afrika, Amerika Latin dan Asia (Triple A countries), termasuk Indonesia? Pertanyaan hampir sama terarah juga pada bangsa-bangsa Eropah yang mengalami kehancuran total dalam PD I (28/7 1914 – 11/11-1918), dan PD II  (1939 – 1945); Jepang diluluh-lantakkan oleh AS melalui dua bom atom (1944); dan Vietnam diajar oleh AS melalui Perang Vietnam 1975 dan oleh RRC tahun 1995, namun negara kecil ini memenangkan perang, bahkan mampu mempersatukan Vietnam Utara dan Vietnam Selatan menjadi satu. Ada apa dengan mereka ?

Vietnam tegak lagi tidak lebih dari 40 tahun, Eropah memerlukan waktu kurang dari 10 tahun dan Jepang bangkit kembali kurang dari 25 tahun. Taiwan menjadi Macan Asia tidak sampai dua generasi (50 tahun). Namun, Indonesia dalam 70 tahun, masih terseok-seok dalam ketidakpastian. Bahkan PBB (Prabowo Subianto, Membangun kembali Indonesia Raya, 2012: 71-182) menggolongkan bangsa ini dalam urutan ke 60 dari 100 negara yang mengalami proses negara gagal (fail state proccess).

Jawaban atas pertanyaan di atas  pada fakta bahwa Taiwan dan bangsa-bangsa tersebut mengalami kehancuran fisik, raga dan material, bukan mental, moral dan jiwa. Moral, mental, dan semangat mereka tetap hidup dan berkobar untuk menjadi terbaik. Sebaliknya, Indonesia, mengalami kehancuran tidak saja fisik dan raga, tetapi juga moral, mental dan jiwa, bahkan kehilangan kepercayaan diri.

Karakter budak dan inlander sebagai terjajah oleh bangsa asing (Alqadrie,Dilema Pembangunan dalam Proses Negara Gagal, 2014: 13) maupun oleh bangsa sendiri dan penghancuran diri sendiri (self destruction), menyebabkan bangsa ini tak punya lagi malu, harga diri dan marwah/martabat. Akan sangat lama dan –tidak mengatakan—mungkin sulit  bagi bangsa ini untuk bangkit kembali menjadi sederajat dengan bangsa-bangsa lain di dunia, tanpa revolusi mental, pertaubatan nasional dan jiwa kepahlawanan (heroism).

* Dosen Untan, Professor Tamu Nordic Institute for Asian Study (NIAS), Copenhagen, Denmark

(D S Vivi/Mohammad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *