Tim Restorasi Gambut Daerah Kalbar Koordinasikan Revitalisasi Lahan Gambut dengan Berbagai Stakeholders

Tim Restorasi Gambut Daerah Kalbar Koordinasikan Revitalisasi Lahan Gambut dengan Berbagai Stakeholders

Pada tahun 2015 terjadi kebakaran lahan gambut terparah sepanjang sejarah yaitu 2,6 Juta Ha hutan dan lahan gambut terbakar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Asap kebakaran lahan gambut ini terbang kemana-mana bahkan sampai ke negara tetangga kita Malaysia dan Singapura. Dampak lain mengganggu jarak pandang di jalanan dan yang lebih menyakitkan lagi adalah mengakibatkan sesak napas (ISPA) pada berbagai usia. Kerugian ekonomi pun diperkirakan tidak kurang dari Rp. 221 Trilyun, angka yang sangat fantastis bisa menggangu perekonomian nasional.

Pada tahun 2018 ini di Kalimantan Barat tidak kurang dari 5 Ha lahan gambut terbakar di Kubu Raya. Bahkan TNI POLRI bersama Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD Kalbar) bersatu bahu-membahu memadamkan api di lahan gambut tersebut.

Menurut Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono, tanah di Provisni Kalimantan Barat memiliki dua jenis, yaitu gambut dan mineral. “Pada saat memasuki musim kemarau lahan gambut berpotensi mudah terbakar. Satelit sangat sensitif saat menangkap titik panas, hal ini yang harus kita antisipasi karena memang Kalimantan Barat didominasi oleh lahan gambut,” terang dia.

Efek dari bahaya kebakaran hutan dan lahan yang dapat ditimbulkan sangat banyak. Pertama bagi pernapasan, terutama anak-anak yang rentan dan berakibat jangka panjang. Kedua transportasi dapat terganggu dan jika transportasi terganggung misalnya transportasi udara maka juga akan berdampak pada perkenomian. “Jika ingin membuka lahan dapat digunakan dengan cara lain tidak harus dengan dibakar,” tegas dia.

Tim Restorasi Gambut Daerah Kalimantan Barat (TRGD-KALBAR) menyelenggarakan Rapat Koordinasi dan Fasilitasi Restorasi Gambut Tahun 2018 di Kabupaten Mempawah pada hari Selasa, (25/9/2018). Rapat dihadiri oleh Plt. Bupati Mempawah, Gusti Ramlana, Kabid. Tata Lingkungan dan Penegakan Hukum Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PERKIMLH) Provinsi Kalimantan Barat, Sri Martini, S. H. hadir secara langsung di Mempawah.

Sri Martini mewakili Ir. H. Adi Yani, M. H. kepala dinas PERKIMLH menyampaikan sambutan Kadis PERKIMLH selaku Organisasi Perangkat Daerah yang dipercayakan melaksanakan Tugas Pembantuan Restorasi Gambut Tahun 2018 bahwa koordinasi dan fasilitasi ini diharapkan tersampaikannya informasi restorasi di Kabupaten Mempawah sebagai salah satu wilayah sasaran restorasi.  Untuk tahun 2018 ini ada 5 desa di 3 kecamatan lingkup Kabupaten Mempawah yang akan ikut dalam serangkaian kegiatan restorasi tahun 2018 ini.

Plt. Bupati Mempawah, H. Gusti Ramlana, S. Sos., dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas diikutkannya Mempawah dalam restorasi 2018 ini sebagaimana juga pada tahun 2017 telah pula direstorasi pada 8 desanya.  Sebagaimana diketahui bahwa Mempawah berdasarkan dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (KLHK, 2016) memiliki luasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) mencapai 122.743 hektar, yang terdiri dari 80.883 hektar pada fungsi budidaya dan 41.860 hektar pada fungsi lindung. Beliau awali dengan apakah alasan gambut diciptakan Allah swt di Kalimantan ini?Anugrah atau semata-mata bencana.  Kita harus yakin bahwa Allah swt menciptakan apa pun, pasti ada manfaatnya, hanya kita saja yang tidak bijak dan mau tahu.  Hal ini sangat lah perlu karena ke depan yang jadi tantangan buka semata-mata uang, tiga hal utama{ 1) air, 2) energi, dan 3) pangan.  Semoga dengan terlaksananya kegiatan ini dapat kita mengetahui apa yang dapat dihasilkan dan diberdayakan dari keberadaan gambut, amin.

Ir. Feira Budiarsyah Arief, M. Si. selaku Sekretaris Kegiatan TRGD-KALBAR dalam laporannya menyampaikan bahwa Rapat ini mengundang lebih kurang 65 peserta terdiri dari perwakilan desa dan kecamatan serta pihak TNI, POLRI dan BPBD yang selama ini senantiasa berjuang keras bila bencana kebakaran terjadi setiap tahunnya.  Diharapkan dengan restorasi ini bencana asap akibat kebakaran lahan gambut di Mempawah khususnya dan Kalbar umumnya tidak terulang kembali dengan tetap memberi kesempatan masyarakat berusaha melalui revitalisasi alternatif sumber mata pencaharian desa bergambut.

Rapat menghadirkan narasumber akademisi akademisi UNTAN untuk melakukan revitalisasi alternatif mata pencaharian masyarakat terdampak restorasi dari Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura diantaranya Ir. Hj. Purwaningsih, M. Si. (terkait pertanian tanpa bakar di lahan gambut), Purwaningsih untuk memanfaatkan lahan gambut menawarkan konsep pengelolaan lahan gambut tanpa bakar. Semak belukar dikumpulkan di dalam drum tertutup lalu dibakar. Dibagian atas drum terdapat selang yang terhubung dengan dasar drum untuk mengalirkan kembali  asap hasil pembakaran ke dalam drum. Setelah 2 sampai 3 jam akan terbentuk arang yang bisa digunakan sebagai pupuk tanaman di lahan Gambut.  Metode ini untuk menjaga ekosistem gambut agar tetap terjaga. Dwi Raharjo, S. TP., M. P. (Pasca Panen Produk Pertanian di Lahan Gambut), dan Duta Setiawan, S. Pt., M. Si. (Peternakan di Lahan Gambut).

Duta menuturkan bahwa dalam revitalisasi lahan gambut bisa menintegrasikan dengan ternak seperti kambing dan sapi. Lahan gambut yang dipenuhi semak belukar atau land cover crop bisa menjadi bahan pakan yang bergizi bagi ternak tersebut. Keunggulan ternak yaitu kotoran hewan bisa dimanfaatkan menjadi biogas dan pupuk kandang. Pupuk kandang ini akan bermanfaat bagi tanaman yang ditanam dilahan gambut. Selain itu ada added value dari kegiatan pertanian dan peternakan ini yaitu peningkatan pendapatan petani sekitar 20-30%% akan meningkat pungkasnya. (R/Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *